Tuesday, August 9, 2011

WAHAI KAUM MUSLIMIN ! DIDIKLAH ANAK KALIAN (Ehsan daripada blog Kembara di negeri asing)

Sekadar berkongsi satu artikel menarik untuk ingatan diri sendiri terutamanya dan buat sahabat2 di luar sana daripada blog Kembara di Negeri Asing yang saya ubah beberapa perkataan Indonesianya agar mudah difahami..

WAHAI KAUM MUSLIMIN ! DIDIKLAH ANAK KALIAN

۞ ﺒﺴﻢ ﺍﷲ ﺍﻠﺮﺤﻤٰﻦ ﺍﻠﺮﺤﯿﻢ ۞

WAHAI KAUM MUSLIMIN ! DIDIKLAH ANAK KALIAN
Jumat, 27 Mei 11

Shahabat Ibnu ‘Umar radhiyallahu 'anhuma meriwayatkan dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, bahwasanya beliau bersabda:


« ألا كلكم راع وكلكم مسئول عن رعيته ، فالأمير الذي على الناس راع وهو مسئول عن رعيته ، والرجل راع على أهل بيته وهو مسئول عنهم ، والمرأة راعية على بيت بعلها وولده وهي مسئولة عنهم ، والعبد راع على مال سيده وهو مسئول عنه ، ألا فكلكم راع وكلكم مسئول عن رعيته » . رواه مسلم

"Ketahuilah, setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan ditanya tentang orang yang dipimpinnya. Seorang Amir (pemimpin negara) adalah pemimpin dan ia akan ditanya tentang rakyat yang dipimpinnya. Seorang lelaki/suami adalah pemimpin bagi keluarga nya dan ia akan ditanya tentang mereka. Wanita/istri adalah pemimpin terhadap rumah suaminya dan anak suaminya dan ia akan ditanya tentang mereka. Budak seseorang adalah pemimpin terhadap harta tuannya dan ia akan ditanya tentang harta tersebut. Ketahuilah setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan ditanya tentang orang yang dipimpinnya." (HR. Al-Bukhari no. 5200, 7138 dan Muslim no. 4701 dari Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu 'anhuma)

Hadits di atas memberikan faedah kepada kita bahwa setiap orang tua (bapak dan ibu) berkewajiban untuk memelihara dan mengurus anak-anaknya. Adapun pengurusan anak meliputi pemberian sandang, papan (tempat tinggal) dan pangan (makanan). Namun yang tidak kalah penting dari ketiga hal tersebut adalah pemberian pendidikan kepada mereka. Masih banyak orang tua yang meremehkan pendidikan anak-anaknya, mereka mengira bahwa tanggung jawab mereka telah mereka tunaikan apabila mereka telah memberikan sandang, papan, pangan dan menyekolahkan mereka. Mereka lupa bahwa pendidikan agama adalah salah satu kewajiban yang harus mereka tunaikan bagi anak-anak mereka. Karena mendapatkan pendidikan agama adalah hak setiap anak.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:”Barang siapa yang meremehkan pendidikan anak dengan tidak memberikan sesuatu yang bermanfaat baginya, dan membiarkannya sia-sia, maka dia telah berbuat keburukan yang sangat buruk kepada anaknya. Dan kebanyakan rosaknya anak adalah disebabkan ibu bapa mereka sendiri, karena mereka melalaikan anak-anaknya, tidak mengajari mereka kewajiban-kewajiban dan sunah-sunah agama. Lalu mereka pun menyia-nyiakan anak-anak mereka di waktu kecil, sehingga mereka tidak bisa bermanfaat untuk diri sendiri dan tidak bisa pula memberi manfaat terhadap orang tuanya di masa tua.” (Tuhfatul Maudud bi Ahkaamil Maulud)

Di antara faktor yang menjadi penyebab mereka meremehkan pendidikan agama bagi anak-anak adalah ketidaktahuan mereka tentang karakterisik pedidikan bagi anak. Oleh sebab itu wajib bagi kita mengetahui karakterisik pendidikan agama bagi anak. Di antara karakterisik tersebut adalah sebagai berikut:

Pertama: Pendidikan adalah ibadah

Sesungguhnya mendidik anak adalah suatu ibadah yang seorang muslim akan diberi pahala atas apa yang dia lakukan dalam mendidik anak-anaknya. Maka di dalamnya harus ada keikhlasan niat dan pemurnian niat semata-mata karena Allah. Janganlah seorang muslim capek dalam mendidik muridnya (atau anaknya) dengan niat supaya dikatakan seorang professional, atau supaya diacungi jempol, dan diakui bahwa dia telah mengerahkan usaha yang maksimal dalam mencari jalan hidayah untuk keluarganya. Atau supaya dikatakan:”Sungguh luar biasa pendidik ini! Sungguh sukses pengajar ini!” Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,


{وما أمروا إلا ليعبدوا الله مخلصين له الدين} [البينة: ه[

”Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.” (QS. Al-Bayyinah: 5)

Dari ‘Umar bin al-Khaththab radhiyallahu 'anhuma berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:


((إنما الأعمال بالنيات((…

”Sesungguhnya suatu amalan tergantung niatnya..”(HR. al-Bukhari dan Muslim)

Dan juga diharuskan meneladani dan mencontoh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam mendidik anak, karena sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk beliau, metode yang paling sempurna adalah metode beliau dan jalan yang paling terang adalah jalan beliau shallallahu 'alaihi wa sallam.

Maka meneladani Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam mendidik kelurga adalah suatu keharusan dan tidak ada pilihan lain, tidak boleh berpaling darinya, karena di dalamnya ada buah yang jelas, hasil yang bisa langsung dirasakan. Dan tidak mengapa untuk mengambil faedah dari uslub (metode) pendidikan modern yang sesuai dengan ajaran Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, dan tidak menyelisihi ajaran beliau, karena ‘Aisyah radhiyallahu 'anha berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,


من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد

”Barangsiapa yang membuat perkara baru dalam urusan kami (agama Islam) ini yang bukan darinya maka dia tertolak.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Dan di dalam menelaah dan mengkaji sunah-sunah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tentang pendidikan beliau terhadap keluarganya sudah mencukupi kita dari mempelajari metode-metode yang lain.

Kedua: Berharaplah pahala dari Allah

Berharaplah pahala dari Allah Subhanahu wa Ta'ala dari apa yang anda usahakan dalam mendidik mereka, karena pendidikan itu berat, tidak ringan, panjang tanpa akhir, dan perlu biaya besar tidak sedikit. Dan seseorang tidak mendapatkan pahala melainkan apa yang ia harapkan. Sebaik-baik cita-cita adalah apa yang dicita-citakan untuk kebaikan keluarga, sebaik-baik nafkah adalah apa yang dikeluarkan untuk keluarganya.

Dari Tsauban radhiyallahu 'anhu berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,


((أفضل دينار ينفقه الرجل دينار على عياله((

”Dinar yang paling utama yang dibelanjakan seseorang adalah dinar yang ia belanjakan untuk keluarganya,…” (HR. Imam Muslim)

Dan dari Abi Mas’ud al-Badri radhiyallahu 'anhu, dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,


إن المسلم إذا أنفق على أهله نفقة؛ وهو يحتسبها، كانت له صدقة

”Apabila seorang muslim memberi nafkah kepada keluarganya dan dia mengharapkan pahala dengannya maka nafkah tadi teranggap sebagai sedekahnya. (HR Bukhari dan Muslim. Adapun lafazh hadits menurut riwayat Imam Bukhari)

Maka setiap orang melakukan pendidikan, minimal mendidik anak-anaknya sendiri, namun tidak semuanya mendapatkan pahala. Maka perhatikanlah hal ini….

Ketiga: Hidayah bukan di tanganmu

Sesungguhnya hidayah –dalam artian masuknya iman, taufiq dan keteguhan di atasnya- bukan di tanganmu. Akan tetapi ia ada di tangan Dzat yang memberi hidayah kepada siapa yang dikehendaki dengan karunia dan rahmat-Nya, dan yang menyesatkan siapa yang dikehendaki dengan keadilan dan hikmah-Nya. Namun yang wajib bagi anda hanyalah memberikan bimbingan, nasehat dan arahan. Maka janganlah anda melalaikan dan meremehkannya. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,


{إنك لا تهدي من أحببت ولكن الله يهدي من يشاء} [القصص: 56[

”Sesungguhnya kamu (hai Muhammad) tidak akan dapat memberi hidayah (petunjuk) kepada orang yang kamu cintai, tetapi Allah lah yang memberi petunjuk kepada siapa saja yang dikehendakiNya, ...” (QS. Al-Qashash: 56)

Allah Subhanahu wa Ta'ala juga berfirman,


ليس عليك هداهم ولكن الله يهدي من يشاء} [البقرة: 272[

”Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufik) siapa yang dikehendaki-Nya....” (QS. Al-Baqarah: 272)

Dari Abu Dzar radhiyallahu 'anhu berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,


(قال الله عز وجل:... يا عبادي كلكم ضال إلا من هديته فاستهدوني أهدكم(

”Allah Azza Wajalla berfirman:’…Wahai hambaku, kalian semua adalah sesat kecuali siapa yang Aku beri hidayah, maka mintalah hidayah kepada-Ku.”

Engkau tidak memiliki daya dan kekuatan untuk memberi manfaat bagi dirimu sendiri, maka untuk memberikannya kepada orang lain lebih tidak mampu lagi. Maka janganlah bersandar kepada dirimu, jangan mengandalkan kemampuanmu, dan janganlah yakin kepada selain Rabbmu (Allah), serahkan urusanmu kepada kepada-Nya, bertawakallah kepada-Nya dan mintalah pertolongan dari-Nya. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,


{وعلى الله فتوكلوا إن كنتم مؤمنين} [المائدة: 23[

”Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakal, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (QS. Al-Maa’idah: 23)

Dia juga berfirman,


وَمَا تَوْفِيقِي إِلَّا بِاللَّهِ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ (88)

”Dan tidak {ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali....” (QS. Huud: 88)

Dan perbanyaklah berdo’a kepada-Nya, berharap kepada-Nya, bersandar dan merendah di hadapan-Nya. Jangan pernah sekali-kali mengatakan:”Semua ini berkat kecerdasanku, berkat pengetahuanku, berkat kerja kerasku dan lain-lain, namun engaku –di setiap kondisimu- selalu butuh kepada Allah, tidak bisa lepas dari-Nya dan tidak ada tempat untuk lari dari-Nya.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berdo’a,


(يا حي يا قيوم برحمتك أستغيث أصلح لي شأني كله ولا تكلني إلى نفسي طرفة عين((

”Wahai (Allah) Yang Mahahidup, wahai Yang Mahaberdiri sendiri dengan rahmat-Mu aku meminta pertolongan, perbaikilah untukku seluruh urusanku dan janganlah Engkau menyerahkannya kepadaku walau sekejap mata.”

Keempat: Keteladan dalam segala hal

Tidak diragukan dan tidak perlu diperdebatkan lagi tentang pentingnya keteladanan yang baik di dalam segala bidang, maka dirimu adalah bidang yang pertama. Jika engkau mampu menjadi teladan yang baik untuk dirimu sendiri niscaya engkau akan lebih mampu menjadi teladan bagi selainmu. Maka mulailah dari dirimu sendiri, perbaikilah dirimu, niscaya Allah akan memperbaiki orang-orang yang ada di bawahmu (orang yang engkau pimpin) dan orang-orang yang mengikutimu. Karena mereka, bila mendengar sesuatu yang bertentangan dengan apa yang engkau perbuat, niscaya akan terjadi ketimpangan dan jadilah perkataanmu tidak memiliki dampak pada mereka. Sebagaimana perkataan penyair:


لا تنه عن خلق وتأتي مثله عار عليك إذا فعلت عظيم
Janganlah kalian melarang sesuatu namun engkau melakukannya, sungguh besar aib atasmu apabila engkau melakukannya

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,


{وما أريد أن أخالفكم إلى ما أنهاكم عنه إن أريد إلا الإصلاح ما استطعت وما توفيقي إلا بالله عليه توكلت وإليه أنيب} [هود: 88[

”Dan aku tidak berkehendak menyalahi kamu (dengan mengerjakan) apa yang aku larang. Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali.” (QS. Huud: 88)

Kelima: Lenturlah seperti pisau

Lenturlah dan lembutlah seperti pisau yang memotong tanpa menyakitkan. Kelembutan adalah nikmat yang besar yang berpengaruh pada jiwa yang mulia dan tidak bisa dipengaruhi oleh sikap kasar dan kekerasan. Dari ‘Ubaidaillah bin Ma’mar radhiyallahu 'anhu berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,


- ما أعطي أهل بيت الرفق إلا نفعهم، ولا منعوه إلا ضرهم

”Tidaklah sebuah penghuni rumah dikaruniai kelembutan kecuali ia akan memberi manfaat kepada mereka, dan tidaklah mereka dihalangi darinya melainkan ia akan membahayakannya.”

Dari ‘Aisyah radhiyallahu 'anhuma:


(ما يكون الرفق في شيء إلا زانه ولا ينزع من شيء إلا شانه(

”Tidaklah kelemah lembutan ada pada sesuatu melainkan ia akan memperindahnya dan tidaklah ia diangkat dari seuatu melainkan akan memperburuknya.”

Keeenam: Lapang dada, dan tidak tergesa-gesa

Diharuskan tahapan dalam merubah sesuatu. Dahulukan yang paling penting kemudian yang penting dan seterusnya, dan tidak tergesa-gesa untuk medapatkan hasil yang diinginkan.

(Sumber:Diterjemahkan dengan ringkasan dari artkel di http://www.freemoslem.com/showthread.php?t=1404, oleh Abu Yusuf Sujono)

sumber artikel: http://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihathadits&id=265

Tuesday, July 12, 2011

Pemilihan Sekolah..

Assalammualaikum wbt kembali..

Lama betul tak menulis dek kesibukan tugasan harian.. Sebelum itu saya ingin menjawab soalan along Noraini yang tidak dapat saya jawab melalui ruang komen. Along (Mardhiah) juga sekarang belajar di Sekolah Dar Hikmah pada peringkat menengah...

Tajuk di atas adalah bersempena permintaan seorang pembaca blog saya yang meminta saya menulis tentang perbezaan antara ketiga2 sekolah iaitu Sek Al-Amin, Dar Hikmah dan Al-Itqan kerana beliau mungkin sedang dalam proses membuat keputusan untuk menghantar anak ke salah satu dari sekolah2 yang disenaraikan di atas.

Memandangkan saya pernah mempunyai anak2 di kedua2 sekolah iaitu Al-Amin dan Dar Hikmah dan mempunyai sahabat2 yang mempunyai anak di Al-Itqan apa yang saya boleh katakan ialah pemilihan sekolah ini tergantung kepada apa yang ingin kita berikan pada anak2 kita..

Dahulu sebelum memilih sekolah Al-Amin, saya dan suami yang sangat menginginkan anak2 semuanya menjadi hafiz dan hafizah dan hanya bertemu dengan sekolah2 Maahad tahfiz utk anak2 yang berusia 13 tahun ke atas dan mereka diwajibkan untuk tinggal di asrama.. Cuti mereka juga terbatas demi menjaga hafalan mereka dan juga segala anasir2 negatif seperti TV, game,, rakan2 yang tidak baik malah suasana rumahtangga yang tidak biah solehah..

Dalam hati saya ketika itu amat mengharapkan adanya sekolah maahad yang dijalankan seperti sekolah harian iaitu pergi pagi dan petang bertemu dengan keluarga kembali bermula dari Tadika atau sekolah rendah dan tidak ada jalan lain melainkan dengan mengubah diri dan suasana keluarga menjadi biah solehah (kondusif) bagi menjaga kemantapan bacaan.. antaranya ialah dengan menghadkan TV kepada hanya rancangan2 yang baik sahaja seperti Imam Muda, Akademi Al-Quran, Siaran Al-Hijrah yang sesuai untuk tontonan semua dan memberi pengajaran, Halaqah. Tiada game dibenarkan melainkan sebagai reward dan lama kelamaan anak2 ini sudah tidak kisah dengan segala bentuk game..begitu juga tiada handphone diberikan, tiada akaun FB dibenarkan. Internet hanya untuk tujuan pembelajaran sahaja..Insya-ALLAH bilamana mereka dapat berfikir sendiri dan dikelilingi rakan2 yang negatif mereka tidak akan terikut2 dan jika menggunakan pun hanyalah untuk tujuan kebaikan..

Kerana tidak bertemu dengan mana2 sekolah yang boleh menjaga kedua2 bidang iaitu tahfiz + dinniah serta akademik maka kami memilih dengan menghantar anak melakukan tahfiz secara part time di PUSPETA dan kemudiannya ke sekolah Al-Amin hinggalah Kelab Tahfiz di Al-Amin ditubuhkan..

Namun, tanpa sistem hafalan yang tersusun seperti di sekolah Tahfiz hafalan yang baik dan mantap tidak akan dapat dihasilkan kerana itu bilamana bertemu dengan sekolah Dar hikmah yang merupakan antara impian saya dahulu untuk bertemu sekolah yang mencakupi bidang dinniah dan akademi serta hafalan dan saya juga boleh menghantar dan mengambil mereka setiap hari .. saya memindahkan angah ke situ bagi menjaga hafalannya yang semakin bertambah. Kebanyakan sekolah tahfiz juga seperti Dar Hikmah dan Itqan tiada peperiksaan besar seperti UPSR dan PMR kerana ianya akan mengganggu hafalan. Mungkin ada sekolah tahfiz yang membenarkan pelajar mengambil peperiksaan ini dengan cara mereka menjaga hafalan dengan kaedah mereka sendiri..

TETAPI antara yang utamanya ialah salah seorang dari ibu atau bapa perlu berkorban masa melihat hafalan mereka setiap hari tanpa sebarang kompromi begitu juga bidang akademik.. Bila sudah terbiasa bermula dengan anak pertama adik2 akan mudah mengikutinya jika kita hanya memilih seorang sahaja atau anak2 tertentu untuk menghafal Al-Quran yang lain kita biarkan anak2 ini akan memberontak kerana mereka perlu bekerja lebih dari adik-beradik yang lain.. Dalam hal ini lebih baik dihantar ke Maahad yang mempunyai asrama..

Sekolah Al-Itqan juga antara Maahad tahfiz yang bermula dari tadika hingga menengah tetapi saya tidak pasti tentang sistem pembelajaran yang lain.

Setiap sekolah mempunyai kekuatan masing2 dan kelemahan masing2.. Dan sebagai ibu-bapa kita perlu tahu di mana kelemahan anak2 kita dan bersedia untuk turun padang membantu mereka walaupun dengan mendapatkan tuisyen luar dan mengeluarkan belanja yang lebih dan ini adalah pengorbanan yang ibu-bapa sekolah agama perlu lakukan..Kita harus sedar bahawa sekolah2 seperti ini tidak punya sumber kewangan melainkan dari bayaran yuran anak2 sahaja dan mungkin dari sumber2 jogathon dll..

Ini adalah kerana berbanding anak2 yang bersekolah biasa mereka mengambil berbelas2 matapelajaran dan pada saya (walaupun ramai yang mengatakan ini membebankan anak2) inilah ilmu yang patut diutamakan selain ilmu fardu kifayah (semua subjek akademik).. Saya telah melalui jalan tersebut dan saya tidak mahu anak2 saya melalui perkara yang sama sekali lagi..

Antara lain yang ibu bapa perlu lihat adalah perbezaan subjek diniah di setiap buah sekolah (puan harus pergi dan melihat serta bertanyakan sendiri).. Ianya berbeza2 cara pendekatannya. Di Dar Hikmah anak2 saya perlu menguasai bahasa Arab dengan baik kerana buku pelajaran dinniah semuanya dalam bahasa Arab.. ianya terletak pada ibu dan bapa itu sendiri..bagi saya sementelah anak2 saya masih kecil saya suka minda mereka dicabar dan disebokkan dengan menghafal Al-Quran...

Mungkin di lain entry saya akan senaraikan silibus pembelajaran Along dan Angah di Dar Hikmah.. Moga ibu bapa di luar sana mendapat sedikit perkongsian di sini..

Friday, July 8, 2011

Video Perkongsian yang sangat bermanfaat: Saiful Islam

Kepada pembaca blog ini selamat menonton Video "Membentuk Manusia Berpandukan Modul Luqman Al-Hakim (Siri 1)" oleh Ustaz Hazrizal di
http://saifulislam.com/?p=10009#more-10009

Insya-ALLAH moga banyak ilmu keibu-bapaan yang mampu kita raih di sini.

Tuesday, June 7, 2011

Hidayah Itu Milik Mutlak Allah: Kisah Wardina..

Assalamualaikum wbt


Sudah lama tak bersiaran dek kerana kesibukan cuti sekolah (anak2 cuti ibu lebih sibuk lagi).. Saya sambung kembali kisah Wardina Saffiyah yang telah menceritakan kisah dirinya yang mula mendapat hidayah untuk kembali ke jalan Allah pada tahun 2000..


Ibu Wardina merupakan seorang Ustazah (mengajar Al-Quran) dan kelahiran Wardina disambut dgn rasa gembira oleh ibunya setelah kakak Wardina yg masih kecil (bernama Nafisah) meninggal.. Ketika kecilnya disebabkan ibunya yang mengajarnya membaca Al-Quran, Wardina pernah menjadi johan hafazan dan tilawah Al-Quran.. Suatu waktu dulu kita juga pernah mendengar kisah Aisyah Bukhari yang menghafal Surah Yasin tetapi tetap menjadi murtad.. Persoalannya apakah kerana ini kita lebih harus mengabaikan pendidikan ugama kepada anak2?? Jawapannya TIDAK SAMA SEKALI malahan berdasarkan apa yang selalu saya dengar melalui stesen Radio IKIM perkara pokok yang patut kita dasari buat anak-anak adalah pendidikan ilmu TAUHID, FEKAH dan TASSAWUF..yang merupakan ilmu fardhu ain' yang WAJIB dituntut oleh setiap umat Islam dari seawal kanak2 apatah lagi apabila dewasa dan dikelilingi oleh segala macam permasalahan dan persekitaran yang tidak 'BI'AH SOLEHAH' (tidak berlandaskan syariat).


Alangkah sedihnya ibu Wardina bilamana anaknya mula mengikut perangai kawan2nya yang tidak baik, tidak mahu bertudung dan lebih sukakan pub dan sebagainya (NAUZUBILLAH..)


Wardina menceritakan kisahnya dengan rasa hiba bilamana dia mendapati setiap kali dia bangun di tengah malam dia akan mendapati ibunya berada di tikar sejadah, berdoa dan bermohon kepada Allah SWT agar dibukakan pintu hati Wardina ke jalan yg benar.. Semalam ketika menonton Halaqah bertajuk "5 Minit aje" yang menyentuh perkara berkaitan ibu bapa yg lebih suka mencari harta daripada memberi sedikit masa utk mendidik anak-anak, Ustaz Roslan juga menyatakan perkara yang sama.. iaitu "berapa ramai ibu bapa hari ini yang sanggup bersusah-payah bangun di tengah malam bertahajud dan mendoakan anak2 mereka ?? Apakah cukup hanya sekadar memberi makan makanan dan minuman yang digemari anak2 serta memberi wang saku kepada anak2 malahan menswastakan pendidikan anak2 kepada 'bibik-bibik' mahupun hanya mengharapkan sekolah tanpa ibu-bapa itu sendiri memainkan peranan sebagai pendidik.."

Kata Wardina, beliau bersyukur kerana disebabkan pendidikan ugama yang diterapkan oleh ibunya sejak kecil, dia mampu U-Turn kembali ke jalan yang benar denga izin Allah SWT.. Pada tahun 2000 itu beliau terbuka hati untuk menunaikan umrah dan ketika menunaikan Umrah beliau memohon ampun daripada Allah SWT.. Dan, bilamana pulang ke tanah air perkara utama yang dilakukan olehnya ialah mempelajari cara solat yang betul dan bukannya terus menutup aurat..Proses penambahbaikan yang dilakukan oleh beliau adalah melalui mencari ilmu dan membetulkan diri berdasarkan ilmu dan beliau menyeru semua umat Islam agar sentiasa menghadiri majlis ilmu dan membaca Al-Quran..

Ramai daripada kita hari ini sepertimana yang dinyatakan oleh guru saya Ustaz Yazid merasa cukup dengan ilmu fardhu ain yang kita pelajari ketika di sekolah rendah dahulu.. sedangkan itu merupakan sukatan yang disediakan sesuai untuk anak2 seusia 7-12 tahun.. Apakah bila kita sudah mencapai usia 20-an, 30-an mahupun 40-an dan seterusnya kita hanya menjalankan ibadah (solat contohnya) dengan ilmu fardhu ain' anak2 seusia itu ???? Maka bagaimanakah kualiti ibadah kita kepada Allah SWT.. Apakah semakin baik atau sebaliknya.. Mungkin baik untuk kita fikirkan bersama..

Di sini juga saya ingin berkongsi doa Ustaz Farhan yang sangat menyentuh hati.. Setiap kali saya membaca doa ini pasti airmata saya akan mengalir begitu juga anak2 saya.. airmata mereka juga mengalir dan kata mereka, "Sedih doa yang ibu bacakan tu.." Doa saya moga anak2 dan keturunan saya juga anak2 dan generasi akan datang umumnya mampu menjadi anak2 yang sentiasa berbakti buat ibu dan ayah mereka bukan sahaja di dunia ini lebih2 lagi ketika ibu bapa mereka telah tiada..Saya mohon maaf jika doa ini terdapat sedikit pengubahsuaian kerana saya hanya menghafalnya..

Mulakan dan tutupi dengan selawat ke atas Rasululullah SAW:
"Ya Allah, Ampunkanlah dosa kami dan dosa kedua ibu-bapa kami serta sayangilah mereka sebagaimana mereka telah menyayangi kami ketika kecil..

Jadikan anak2 keturunan kami anak2 yang soleh dan solehah yang sentiasa berbakti kepada kedua ibu bapa mereka..

Jadikan mereka anak2 yang menjaga kami dengan penuh kasih sayang apabila kami mencapai usia lanjut..

Jadikan anak2 kami anak2 yang mampu membaca Al-Quran dan semoga amalan itu mengalir terus kepada kami

Jadikan anak2 kami anak2 yang mampu mengajar kami menyebut kalimah 'Lailahailallah' di hujung usia kami..

Jadikan anak2 kami anak2 yang mampu membaca Surah Yaasin bilamana kami sedang nazak..

Jadikan anak2 kami anak2 yang mampu memandikan jenazah kami dan menyempurnakan mayat kami dengan penuh kasih sayang..

Jadikan anak2 kami anak2 yang mampu menyembahyangkan jenazah kami..

Jadikan anak2 kami anak2 yang mampu menyambut jasad kami dengan lemah-lembut ketika dimasukkan ke liang lahad..

Jadikan anak2 kami anak2 yang tidak meninggalkan kami sepi dan kelemasan di alam barzakh, jadikan mereka anak2 yang sentiasa menghantar kalungan2 doa dan amalan baik buat kami..

Persatukanlah kami dan anak2 serta zuriat kami di syurgamu Ya Allah..."

Saya juga pernah mendengar ceramah Ustaz Farhan sendiri betapa antara pengalamannya melihat sendiri bagaimana anak2 seorang bapa yang baik dan dihormati meriba sendiri jenazah bapa mereka ketika jenazahnya dimandikan dengan penuh kasih-sayang. Betapa mereka tidak sanggup meletakkan jasad bapa mereka kerana rasa kasih dan hormatnya mereka kepadanya.. Betapa beruntungnya bapa ini.. Sudah pasti didikan bapa ini kepada anak2nya merupakan didikan yang amat-amat mengkagumkan.. Subhanallah

Bagaimana dengan kita dan anak2 kita??

Antara lain yang ingin saya kongsikan ialah apa yang diperkatakan oleh Ustaz Abdul Basit dalam Slot Tanyalah Ustaz berkaitan dgn solat jenazah.. Betapa besarnya pahala iaitu 1 Qiraat (hadis sahih) sekiranya kita (termasuk kaum wanita terutamanya kaum keluarga si mati) melakukannya.. Apakah yang dimaksudkan dgn 1 Qiraat itu ialah sebesar bukit Uhud.. dan bilamana kita (kaum lelaki) mengiringi mayat ke kubur maka mereka akan beroleh 1 Qiraat lagi..

Fenomena hari ini, tidak ramai yang mahu melakukannya kerana tidak mahu belajar dan antara saranan Ustaz Abdul Basit ialah jika berlaku kematian ambil inisiatif untuk memfotokopi cara2 solat jenazah yang tak sampai 5 minit utk melakukannya dan sebarkan kepada semua yang menghadiri agar semua orang dapat dididik untuk melakukannya..

Saturday, May 28, 2011

HIDAYAH Itu Milik Mutlak Allah !!!

Malam Jumaat yang lalu 27hb Mei 2011 saya berpeluang ke Surau Mustaqim mendengar bicara Sham (Kamikaze) dan Wardina Safiah tentang kisah penghijrahan mereka kepada kehidupan berlandaskan syariat dimana Ustaz Farhan (Timb Nazir Masjid As-Sobirin) menjadi moderatornya..

Sengaja saya tuliskan di sini beberapa perkara yang menyentuh hati saya sebagai peringatan diri saya terutamanya..

Saya sebenarnya sudah begitu lama tidak mengikuti perkembangan golongan artis malah saya langsung tidak kenal siapakah si Sham (Kamikaze) ini, sebelum ini saudara Bob Lokman (saya juga tidak mengenali beliau) juga pernah hadir begitu juga saudara Azmil Mustafa.. Apa yang menarik perhatian saya ialah tentang Kehebatan Doa Seorang Ibu..

Kisah Sham:
Beliau mula bermain gitar di usia 12 tahun ( apabila mendengar kata2nya saya terfikir tentang ibu-bapa anak2 Melayu hari ini yang mungkin ada yang lebih mengutamakan tuisyen bermain muzik untuk anak2 mereka begini agaknya hasil yang akan dilihat nanti).. kemudian apabila selepas habis belajar mula bergiat dgn lebih aktif dalam bidang bermain gitar di klub2 dan sebagainya.. Namun jauh di sudut hati beliau sentiasa merasakan ada satu kekosongan... Solat beliau juga seumpama solat budak2 yg solat kerana takutkan ibu-bapa memarahi mereka bukan solat kerana ALLAH.. Solat kerana ibu beliau tiap kali menelefon akan bertanya "Kau ni dah solat ke belum?"
Maka bermulanya saat penghijrahan beliau ialah bilamana beliau dgn seorang rakan berjalan ke Utara dan berniat bahawa setiap kali tiba waktu solat mereka akan berhenti di masjid utk berjemaah hinggalah mereka tiba ke Masjid Alwi di Kangar,Perlis untuk solat Asar.. Ketika itu mereka kehairanan kerana begitu ramai jemaah di masjid tersebut..
Semuanya kerana Imam Besar MasjidilHaram (Imam Sudais) memberikan tazkirah dan mengimamkan solat Asar.. Sham ini hanya mengenali Imam Sudais kerana ibunya yang telah ke Mekah pernah bercerita kepadanya betapa di Mekah begitu ramai manusia ingin bersalam dengan Imam Sudais tetapi beliau sentiasa dikawal rapi oleh pengawal2.. Maka dalam kesibukan orang bersalam dengan Imam Sudais beliau yang merasakan bahawa mustahil untuk melakukannya bergerak menuju ke kereta dgn harapan cukuplah kalau dapat mengambil gambar Imam Sudais ketika di luar masjid nanti..

Betapa terkejutnya beliau bilamana kereta yang akan membawa Imam Sudais berada di hadapan keretanya dan bila Imam Sudais lalu dihadapannya beliau melontarkan senyuman kepadanya lalu menghulurkan tangan untuk berjabat salam dengan si Sham ini..

Selepas Imam Sudais berlalu Sham yang dalam keadaan menggigil kerana terkejut terus menelefon ibunya dan berkata.. "Ibu, ibu tahu tak apa yang telah berlaku?"
Jawab si ibu, "Manalah ibu tahu, kau kat mana ni?"
Jawab si Sham yang masih menggigil, " Saya kat Perlis bu, Ibu tahu tak Imam Sudais yang ibu ceritakan dulu, saya dapat bersalam dengannya.."
Ibunya menjawab "Itu hidayahlah tu, kalau kau tak sedar lagi tak tahulah..."

Betapa rupa2nya selama ini ibunya tak putus2 mendoakan agar Sham diberikan petunjuk oleh Allah SWT.. dan saya sgt tertarik dengan keakraban Sham dengan ibunya...

Betapa ramai dikalangan kita yang masih terkapai2 tidak mahu berjemaah di masjid(orang lelaki terutamanya), ke majlis ilmu, memperbaiki ibadah kita kepada Allah, membaca Al-Quran dan sebagainya hanya kerana hadiah yang paling hebat iaitu HIDAYAH belum diberikan oleh Allah SWT.. Sedangkan Sham bilamana Allah campakkan HIDAYAH dalam hatinya terus menjadi pencinta ilmu dan berjemaah di masjid.. Mungkin kita boleh renungkan sejenak kisah ini dan sebagai makhluk Allah yang kerdil kita harus berterusan memohon agar Allah memberikan taufik dan hidayah kepada kita agar kita terus diberikan ilmu yang baik, guru2 yang baik, dekat dengan org2 yg soleh dan solehah dalam menempuh jalan yg penuh ranjau ini menuju ke syurga...

Kisah Wardina akan saya sambung nanti...

Sunday, May 15, 2011

Agar Anak Mudah Menghafal Al-Quran: Faktor Luaran

Saya sebenarnya masih belum habis lagi menulis tentang ilmu2 yang terkandung dalam buku 'AGAR ANAK MUDAH MENGHAFAL AL-QURAN' dan kali ini adalah tentang faktor2 luaran yang mempengaruhi anak2 kita yang harus kita jaga.



Faktor2 tersebut ialah:-


a) Memilih guru


b) Memilih mushaf


c) Memilih teman


d) Memilih tempat


e) Memilih waktu


f) Memilih apa yang perlu dihafal


e) Memilih makanan dan minuman


a) MEMILIH GURU

As-Sakhawi dalam Kitab Al-Jauhar wa Ad-Durar mengatakan "Barangsiapa yg masuk ke dalam ilmu sendirian, maka ia akan keluar sendirian" maksudnya barangsiapa yang menuntut ilmu ataupun belajar Al-Quran tanpa guru, maka ia akan keluar darinya tanpa ilmu, tanpa hafalan dan tanpa kemantapan.

Kerana itu antara nasihat beliau ialah keperluan kepada berguru dengan para ulama', para hafizh yang mantap dan bagus bacaannya, org2 yg bertakwa dan suka berbuat kebaikan serta ahli agama kerana Al-Quran itu tidak akan sampai kepada kita melainkan dengan jalan talaqqi (method belajar langsung dengan guru) secara lisan.


Hendaklah kita mengingatkan anak2 agar berlaku sopan terhadap mereka sebagai seorang anak murid..Bertanya kepada mereka dgn baik dan mendengar dgn baik segala perkataannya. Hendaklah anak2 di ajar utk beradab santun di hadapan guru, tidak mendahului dalam berbicara atau berjalan, tidak byk berbicara di hadapan mereka, memotong percakapan guru ketika belajar atau memaksanya utk byk menjawab soalan.


Sekiranya ada kesilapan atau kurang penjelasan si guru jgnlah ia menurunkan kedudukannya dari pandangan.. (memandang rendah pada guru)


Penghormatan kepada para penghafal Al-Quran (guru2 kita/ anak2 kita) yg mesti kita ingati merupakan penghormatan terhadap Allah.


Sabda Rasulullah (SAW) yg bermaksud:

"Ada 3 org yg apabila dihormati sama halnya dengan menghormati Allah.. dan disebutkan di antaranya ialah Pembawa Al-Quran tanpa mengurangi haknya ataupun melebih2kannya.."

Bagaimana tidak kerana mereka adalah sebaik2 makhluk. Nabi (SAW) bersabda yg bermaksud:
"Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al-Quran dan mengajarkannya."

Mereka juga adalah kerabat Allah dan org yang dekat dengannya.. Sabda Rasulullah (SAW) yang bermaksud:
"Sesungguhnya Allah memiliki kerabat dari kalangan manusia," maka ada sahabat yang bertanya, "Siapa mereka?" Beliau pun bersabda, "Ahli Al-Quran mereka adalah Ahlullah (kerabat Allah)dan orang-orang yang dekat dengannya."

Saya mengambil kesempatan di sini untuk mengucapkan Selamat Hari Guru buat semua guru2 saya dari tadika hingga ke menara gading.. Tak lupa buat semua guru anak2 saya dari tadika hingga sekarang.. terutamanya yang sangat saya kagumi akan semangat dan dedikasi beliau iaitu Pengasas Maahad Tahfiz Integrasi Dar-Hikmah Puan Norhayati dan pengetuanya Ustazah Norasyikin serta pengasas Islamic Child Development Centre (ICDC) Tcr Junaidah yang merupakan affiliate tadika bagi Dar-Hikmah . Tak lupa juga guru2 hafazan Al-Quran mereka iaitu Ustazah Kauthaar (Guru yg mengajar hafazan Al-Quran, Hafalan hadis dan Bahasa Arab Bang Chik), Ustaz Nazbul Haq/Ustaz Hasyimi (Guru hafazan Angah) dan Ustazah Hani (guru hafazan Along).. Semoga masing2 diberikan kesejahteraan dan diberkati Allah senantiasa..

Monday, May 9, 2011

Selamat Hari Ibu!!!!

Mawaddah sedang tidur, maka sempatlah saya menulis sekejap berkenaan tajuk di atas.. Saban tahun kita menyambut Hari Ibu dan Hari Bapa tetapi adakah sebarang perubahan (kebaikan) yang kita lakukan dalam memperbaiki akhlak kita kepada mereka..

Saya pernah mendengar bahawa "Sebesar2 hadiah daripada ibu bapa buat anak2 adalah mendidik mereka berakhlak baik" dan saya juga pasti "Sebesar2 hadiah buat ibu bapa daripada anak2 juga adalah dengan mempunyai anak2 yang berakhlak mulia"...

Saya sangat tertarik dengan apa yg diperkatakan oleh Ustaz Jazlan Abdullah dalam slot Tanyalah Ustaz bertajuk "Ibu lahirkan Ibu" atau boleh diertikan sebagai tanggungjawab Ibu dalam melahirkan generasi yg berakhlak mulia kepada kedua org tuanya terutama si ibu..

Apa yg diperkatakan oleh beliau sangat praktikal iaitu tentang apa yg perlu diajarkan kepada anak2 sebagai tanda bersyukurnya kita kepada Allah maka kita juga menunjukkan rasa syukur kita kepada kedua ibu bapa kita..

hadis Rasulullah SAW : Redha Allah terletak pada keredhaan ibu bapa, kemarahan Allah terletak pada kemarahan ibu bapa..

Latihan kepada anak: Latihan terbaik adalah melalui contoh yang kita tunjukkan ketika menyantuni kedua ibu bapa dan mertua..

a) Dari segi percakapan - latih anak utk bercakap secara lemah-lembut kepada ibu bapa..

b) Dari segi pujian - Latih anak untuk memuji ibu-bapa

c) Dari segi perbuatan - Latih anak untuk bersikap baik dengan ibu bapa

d) Dari segi pemberian - latih anak untuk menghadiahkan apa yang disukai oleh ibu bapa

e) Dari segi rujukan -latih anak menjadikan ibu-bapa (bukan rakan taulan) sebagai tempat rujukan..

f) Dari segi pemberian - latih anak untuk memberi wang bulanan kepada ibu bapa walaupun hanya RM50 atau RM100 sekadar kemampuan.. Bukan kerana ibu bapa perlukan wang tersebut tetapi sebagai tanda keberkatan..

g) Latih anak untuk mendoakan kita.. Ini juga pernah disebut oleh Ustaz Roslan suatu masa dahulu agar menyediakan buku doa yang baik dan selepas solat jemaah biar anak2 membaca doa tersebut secara bergilir2.. Saya sudah mula mempraktikkannya sejak itu di mana Along dan angah akan bergilir2 membaca doa dalam bahasa Arab dengan maksudnya sekali setiap kali solat berjemaah terutamanya maghrib dan ditambah dgn doa buat ibu bapa yg bermaksud..

" Ya Allah ampunilah dosa kedua ibu bapa kami, tempatkanlah mereka di syurgamu serta sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangi kami semenjak kecil"..

h) Latih anak tentang peranan anak2 kepada ibu bapa apabila mereka tua:

-Merebut peluang berbakti memelihara ibu/bapa
-Jika ibu bapa sakit perlu usahakan untuk berubat jika duduk berjauhan selalu menziarahi mereka
-Layani/santuni ibu bapa dengan lembut , suapkan makan mereka, picit dan gosokkan tempat yg sakit..

Pernahkah kita diajar/dilatih untuk melakukan hal2 di atas semasa kita kecil? Beruntunglah jika kita masih punya ibu bapa untuk berbakti.. bagi mereka yang pernah melakukan kesilapan pada ibu bapa yg sudah lama pergi.. Berikut adalah apa yang disarankan oleh Ustaz Jazlan untuk melakukannya:-

1) Berdoa agar ibu bapa diselamatkan daripada azab seksa di dalam kubur..

2) Memohon ampun atas dosa2 kita dan dosa kedua mereka

3) Laksanakan nazar mereka sekiranya ada

4) Hubungkan silaturrahim dengan sahabat2 ibu bapa serta kaum kerabat yang rapat dgn mereka.

5) Jelaskan hutang2 mereka dengan Allah (puasa, haji, zakat dsb) serta manusia.

6) Berterusan dalam menghadiri majlis ilmu dan melakukan amal kebaikan semoga amalan baik yg dilakukan oleh kita Allah sampaikan kepada mereka.

7) Ziarah kubur mereka

Antara lain Ustaz Jazlan juga menyenaraikan sifat2 anak derhaka yang boleh kita jadikan panduan buat kita dalam kebaktian kita buat ibu bapa juga agar dapat dijadikan satu tazkirah buat anak2 kita agar mereka tidak tergolong dalam golongan anak derhaka .. Nauzubillah..

a) Memandang dengan mata yang tajam atau menjeling sekiranya kehendaknya berlawan dengan kehendak kita (didik diri/anak untuk memandang dengan penuh kasih-sayang kerana kita beroleh pahala rahmat Allah jika melakukannya).

b) Berpaling wajah daripada ibu bapa, buat2 tak dengar apa ibu bapa cakap, hentak kaki atau tutup pintu dgn kuat.

c) Meninggikan suara dihadapan ibu bapa atau bercakap dengan nada yang menyakitkan hati ibu bapa.

d) Merasa lebih tinggi daripada ibu bapa, mungkin kerana berpelajaran tinggi.. namun tanpa ibu bapa yang hebat mana mungkin mereka mencapai kejayaan itu..

e) Jika tidak bersetuju dgn ibu bapa tegur mereka dgn berhikmah. Jangan bantahi mereka dgn kasar..

Untuk menjadikan anak2 soleh dan solehah kehadapankan PENDIDIKAN UGAMA kepada anak2.. serta pastikan mereka berakidah dgn akidah yg betul, mengikut syariat, betul cara beribadat serta mempunyai akhlak terpuji..

Sabda Rasulullah (SAW) yang bermaksud: "Aku diutuskan untuk menyempurnakan akhlak"
Untuk itu kita perlu mendalami hadis2 Rasulullah bagi mempelajari akhlak Rasululullah SAW yang sebenarnya.. Umar Al-Khattab ada mengatakan bahawa didiklah anak sesuai dengan zamannya dan sesungguhnya pendidikan itu tidak dapat dipisahkan daripada Al-Quran dan hadis (sunah Rasulullah)..

Saya sambung sedikit lagi tentang kata2 Ustaz Roslan pagi tadi dalam slot Tanyalah Ustaz yg bertajuk Takwa:


Harta abadi kita selepas meninggal dunia bukannya tanah berekar2 atau rumah2 sewa yang bersusun tetapi anak2..

Anak2 yg bagaimana yg didambakan oleh kita?? Sudah tentu anak yg bertakwa yang merupakan harta abadi yang akan sentiasa menghantar pahala buat dua ibu bapanya.. dan ianya tidak akan didapati tanpa kita berusaha ke arah itu.. Zuriat atau generasi bertakwa ini hanyalah boleh dibangunkan atas dasar ugama dan ilmu sahaja..

Antara TIPS yang diberi untuk menjadi org yg bertakwa sebelum mendidik generasi bertakwa ialah:-

a) Dekati org2 yang berilmu, bersahabat dengan org2 yang cintakan ilmu serta yang boleh membimbing kita..

b) Kata Ibnu Qayyim: org yg bertakwa sentiasa rindukan pahala .. Rajin2 mengikuti majlis ilmu kerana ia adalah antara jalan2 menuju syurga..

c) Terus belajar kerana kita bermula daripada orang yg tidak tahu..

Semoga perkongsian ini menjadi batu loncatan buat kita lebih menghayati erti Hari Ibu dan Hari Bapa yang sebenarnya dan bukan sekadar memberi hadiah, bunga atau kek sebagai ingatan..

Selamat Hari ibu buat kedua2 mummy, mama, umi, ibu2 saudara saya serta sahabat2 yang bergelar ibu di luar sana..